Logo SantriDigital

Menjadi santri yang sadar dengan kegiatannya

Kultum
M
MAAS FIQHI AKBAR ZIYAA'UL HAQ Z.A
7 Mei 2026 4 menit baca 2 views

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، والصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ والمُر...

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، والصَّلَاةُ والسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ والمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِهِ وصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ: وَتَوَسَّطِ الهُدَى وَتَوَسَّطِ النِّهَايَةِ وَمَا كَانَ لِلهِ مِنَ الطَّاعَةِ: قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا. (القحف: 110) رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي. Ma'asyiral muslimin, hadirin wal hadirat yang dirahmati Allah. Pagi yang cerah ini, mari kita saling menyapa dengan hati yang lapang dan senyuman yang merekah. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan-Nya. Jalan-jalan ke pasar beli manggis, Pulangnya mampir ke warung Bu Susi. Demi masa depan yang cemerlang nan manis, Jadi santri sadar diri, itu kunci. Hadirin sekalian, kalau dengar kata 'santri', apa yang terbayang? Pasti buku tebal, kitab kuning, kaffah, sarung, dan mungkin… aroma nasi goreng telat makan yang kadang bikin merinding disko. Betul apa betul? Nah, kali ini kita mau ngobrolin sesuatu yang penting banget buat kita semua, terutama kita para santri: gimana caranya biar jadi santri yang "sadar" sama apa yang kita lakuin. Jadi santri itu kan luar biasa. Kita nuntut ilmu, ibadah, ditempa di pondok pesantren. Tapi kadang, saking seringnya rutinitas itu berjalan, kita jadi 'otomatis'. Bangun pagi ya bangun, baca kitab ya baca kitab, tapi kadang… isinya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, atau lebih parah, masuk otak tapi langsung nyasar ke kantin. Bener nggak? Nanti kaget pas ditanya guru, "Tadi baca surat apa?" Jawabannya, "Surat cinta dari mantan, Pak!" Kesadaran ini penting, Saudaraku. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Kahfi ayat 110: "قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا." Yang artinya: "Katakanlah: 'Sesungguhnya aku ini adalah seorang manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa'. Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia menyekutukan seorang pun dalam ibadatnya kepada Tuhannya." Ayat ini tegas banget! Mau ketemu Allah? Mau dapat balasan surge? Ya kerjain amal saleh, tapi jangan setengah-setengah. Harus sadar apa yang dikerjain, ikhlas lillahi ta'ala, nggak cuma ikut-ikutan! Pernah dengar cerita tentang malaikat dan manusia? Malaikat itu kan tugasnya sudah jelas. Yang satu nyatet amal, yang satu tiup sangkakala, yang satu nyekut malaikat maut. Semua otomatis, tanpa keluhan. Nah, kita ini manusia, dikasih akal budi. Kalau kita nggak sadar, nggak pakai akal, kok ya kelakuannya mirip robot pabrikan yang lagi *lowbat*? Ingat hadits Rasulullah ﷺ: "Setiap amalan tergantung pada niatnya. Siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari & Muslim). Niat itu ibarat GPS. Kalau niat kita cuma mau pinter biar bisa manjat pohon kelapa atau biar bisa ngabisin nasi goreng di pondok, ya segitu nanti hasilnya. Tapi kalau niat kita tulus karena Allah, untuk bekal ilmu agama, untuk dakwah, untuk jadi pewaris nabi, wah, beda ceritanya! Ulama salafuna shalih kita, seperti Imam Al-Ghazali, pernah berkata, "Kehidupan dunia adalah persinggahan, bukan tujuan. Gunakanlah ia untuk bekal ke akhirat." Kita di pesantren ini kan sedang 'ziarah' sambil belajar. Jangan sampai karena asyik ngopi sambil ngobrol ngalor-ngidul, lupa sama tujuan utamanya. Pas ditanya malaikat, "Kamu ngapain aja di pesantren?" Jawabnya, "Ngelatih suara pas adzan Maghrib, Pak!" Menjadi santri yang sadar itu artinya, setiap aktivitas kita, baik belajar, ibadah, bersih-bersih, bahkan ngantri di wudhu, harus kita niatkan karena Allah. Tanyai diri sendiri: "Kenapa aku di sini? Apa yang sedang aku lakukan? Untuk apa aku melakukannya?" Kalau jawabannya sudah jelas karena Allah, insya Allah, semua jadi bernilai ibadah. Bahkan saat kita ngedumel gara-gara kebagian nyapu WC, begitu kita sadar dan niatkan untuk membantu operasional pondok, itu pun jadi amal. Tentu saja, sambil tetap berdoa semoga dapat WC dengan air yang lancar jaya. Maka dari itu, mari kita latih diri untuk selalu sadar. Saat membaca kitab, fokus membaca. Saat mendengarkan pelajaran, pasang kuping baik-baik. Saat beribadah, hadirkan hati. Jangan sampai kegiatan kita di pesantren ini hanya sekadar 'gugur kewajiban' atau 'biar nggak dimarahin pengurus'. Tapi jadikan setiap detik di sini sebagai investasi akhirat yang tak ternilai. Sadari, renungi, dan laksanakan dengan penuh keikhlasan. Semoga Allah SWT membimbing kita semua menjadi santri-santri yang sadar akan tujuan dan kegiatannya, sehingga ilmu yang kita dapatkan menjadi berkah, amalan kita diterima, dan kita semua dipertemukan dengan Allah dalam keadaan husnul khatimah. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →